Home / Flores & Lembata / Ho’in Laga Lewotana Kearifan Lokal Masyarakat Lewotala Hadapi Covid-19

Ho’in Laga Lewotana Kearifan Lokal Masyarakat Lewotala Hadapi Covid-19

54 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

LARANTUKA TIMURNTT.COM Beberapa akhir pekan ini keberlangsungan hidup manusia di dunia kembali terancam dengan hadirnya Virus Covid-19 atau corona. Virus Corona yang semula muncul di Wuhan-Cina merangsek sangat cepat ke berbagai wilayah negara di dunia dan merenggut puluhan ribu nyawa manusia. Catatan WHO (World Health Organization) saat ini virus Corona sudah menyebar ke 200 wilayah negara di dunia dan   sebanyak 38.090 lebih nyawa manusia menjadi korban keganasan virus ini.

Negara Indonesiapun tak luput dari cengkeraman keganasan virus ini. Cacatan per 31 Maret 2020 ditemukan 1.528 kasus virus Corona di Indonesia. Dari jumlah ini 136 penduduk Indonesia dinyatakan meninggal dunia. Pneumonia corona (Covid-19) adalah virus baru. Belum ada obat efektif untuk menyembuhkannya. Berbagai upaya dilakukan pemerintah Indonesia untuk pencegahan penyebaran virus corona. Pemerintah menghimbau tiap-tiap lembaga Negara, lembaga agama, dan komponen masyarakat untuk bersinergi dengan pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus corona dengan melakukan social distancing.

Komunitas Lembaga Adat di desa Bantala (Lewotala), Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (NTT), Indonesia sebagai salah satu komponen masyarakat turut bersinergi dengan Pemerintah dalam upaya pencegahan virus covid-19. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan ritus budaya Hoin Laga Lewotanah.

Ritus Hoin Laga Lewotanah yang dilakukan oleh Komunitas Adat Desa Lewotala (NTT) pada Sabtu (28/03/2020) ini menjadi menarik untuk dikaji bersama sebab mengandung nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat yang bersinergi dengan upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran wabah virus Corona.

   Apa itu Ritus Ho’in Laga Lewotanah? Apa hubungan ritus Hoin Laga Lewotanah dengan Pencegahan Virus Corona? Simak selengkapnya dalam ulasan singkat Ekora NTT, di bawah ini!

Ho’in Laga Lewotanah

Ritus Ho’in Laga Lewotanah secara harafiah berarti merawat dan merombak kampung halaman. Ritus ini bermakna sebagai sebuah ritus adat tolak bala atau celaka yang mengancam keberlangsungan hidup manusia di desa Lewotala.

Ritus ini dilaksanakan dalam enam sesi. Sesi pertama adalah memanggil roh para leluhur, guna dewa ‘roh pelindung kampung’, dan Rera Wulan Tana Ekan ‘Wujud Tertinggi atau Tuhan’. Sesi kedua, upacara persatuan roh leluhur, guna dewa ‘roh pelindung kampung’, dan Tuhan dengan warga desa. Sesi ketiga ialah memberikan sesajian di tempat-tempat yang dipercayai bersemayamnya roh pelindung kampung. Pada Sesi keempat adalah pemecahan 6 butir telur dan pemotongan hewan kurban berupa babi dan kambing. Sesi ke lima atau terakhir adalah Gelowa Wekin Wolo Nilu ‘Pemberian tanda berupa minyak kemiri pada dahi semua warga yang dilakukan Kabelen Lewo atau Tuan Tanah’. Pada sesi keenam adalah pemancangan ruas tunas bambu di batas wilayah desa sesuai 4 arah penjuru mata angin.

BACA JUGA  Pemuda GMIT Ebenhaezer Larantuka, Kawal Prosesi Semana Santa

Proses pelaksanaannya dimulai dengan pemanggilan roh para leluhur, guna dewa ‘roh pelindung kampung’, dan Rera Wulan Tanah Ekan ‘Wujud Tertinggi’ yang dilakukan oleh Kabelen Lewo. Bahan yang disiapkan adalah satu buah sirih pinang dan satu kain sarung adat yang diletakkan dalam nyiru. Proses pemanggilan ini dilakukan dengan cara berjalan menuju arah matahari terbit seraya menengadahkan nyiru yang berisi sirih pinang dan sarung adat ke arah matahari sambil mengucapkan doa permohonan dalam bahasa adat.

Setelah proses pemanggilan ini, dilanjutkan dengan upacara persatuan. Dalam upacara persatuan semua yang hadir dalam upacara Ho’in Laga Lewotanah makan sirih pinang sebagai simbol bersatunya manusia, roh leluhur, guna dewa ‘Roh Pelindung kampung’ dan Rera Wulan Tanah Eka ‘Wujud Tertinggi’. Tahap selanjutnya adalah sesi pemberian sesajian kepada guna dewa ‘Roh Pelindung Kampung’. Sesajian diletakan di tempat-tempat yang diyakini oleh warga setempat sebagai tempat bersemayamnya Roh pelindung kampung. Setelah pemberian sesajian, dilanjutkan dengan tahap pemecahan 6 butir telur dan pemotongan hewan kurban berupa binatang (babi/kambing/ayam). Usai pemotongan hewan kurban ritus dilanjutkan dengan acara Gelowa Wekin Wolo  atau pemberian tanda pada semua warga desa dengan menggunakan cairan minyak dari buah kemiri yang dikunyah oleh Kabelen Lewo. Buah Kemiri dalam budaya masyarakat Lewotala memiliki fungsi diyakini sebagai sarana penyembuhan sebagai symbol pemurnian diri.

Pada sesi keenam atau penutup adalah pemasangan ruas bambu pada 4 penjuru mata angin oleh 4 suku yakni Koten, Kelen, Hurint, dan Maran. Ruas bamboo ini diyakini sebagai penagkal masuknya wabah penyakit di dalam desa Lewotala. Bersamaan dengan pemasangan ini diumumkan larangan dan pantangan bagi penduduk desa oleh komunitas adat. Pantangan dan larangan tersebut adalah pertama: seluruh warga desa dilarang bepergian keluar wilayah desa selama 4 hari 4 malam. Kedua: warga dilarang membuat melakaukan keributan dan aktivitas berkumpul. Warga dihimbau tetap berada di dalam rumahnya masing-masing dan menjaga ketenangan sesuai waktu yang ditentukan. Ketiga: setiap akses masuk ke desa ditutup dan melaui pemeriksaan oleh aparat desa dan protap pemerintah yakni dari dinas kesehatan setempat.

BACA JUGA  KPPN Larantuka Gelar Expo Keuangan

Kearifan Lokal

Dalam upacara  Ho’in Laga Lewotanah tersimpan pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan konsepsi mengenai musibah dan wabah penyakit. Masyarakat Lewotala memandang bahwa malapetaka dan wabah penyakit yang menimpa manusia adalah ulah dari kesalahan dan dosa dari manusia sendiri. Kesalahan dan dosa dari manusia ini menyebabkan roh/jiwa manusia tak lagi bersatu dengan tubuhnya dan menjauhnya roh leluhur, guna dewa ‘roh pelindung kampung’ dan menjauhnya perlindungan Lera Wulan Tanah Ekan ‘Tuhan’. Untuk mendapatkan perlindungan dan keselamatan hidup bagi warga dan desa diperlukan silih untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh warga dan memurnikan kembali jiwa manusia dengan sesama, alam semesta, dan Tuhan.

Cara-cara yang ditempuh adalah memaafkan kesalahan, meminta maaf terhadap leluhur; membebaskan jiwa yang dibelunggu oleh dosa; mempersatukan roh/jiwa manusia kembali ke tubuhnya, bersatu dengan Leluhur dan Rera Wulan Tana Eka sebagai Wujud Tertinggi;membersihkan jiwa; dan menambah darah (menggunakan hewan korban) sebagai simbol umur panjang.

Hal ini dapat diketahui dari keenam telur yang digunakan sebagai sarana upacara. Telur pertama, Leba Wangu Gawuk Lean ‘menghapuskan kesalahan, mengubur halangan’  bertujuan menghapus kesalahan dan dosa manusia. Telur kedua, Bawa Let Tuber Manger ‘mengahantar jiwa manusia’ bertujuan membawa kembali jiwa manusia yang terbelenggu kesalahan dan dosa manusia. Telur ketiga, Suku Soba ‘suku besar mohon maaf’ bertujuan meminta maaf terhadap Leluhur dan Lera Wulan Tanah Ekan. Telur keempat, Buka Tali Honge Gorah  ‘membuka tali yang terikat/menambat’ adalah sarana untuk membebaskan jiwa manusia yang terbelenggu atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Telur kelima, Hodik Padak ‘bersambung-menyatukan’ berfungsi mempersatukan roh manusia dengan Rera Wulan Tana Ekan ‘Tuhan’. Telur keenam, Ho’in Laga ‘membersihkan-merombak’ bertujuan membersihkan dan pemurnian kembali jiwa dan raga manusia.

Selain telur, dibutuhkan hewan kurban yakni kambing dan babi. Darah binatang kurban dipergunakan sebagai simbol panjang umur. Dalam bahasa adat disebut Pota Mei, Hore Worak ‘menambah darah, mengisi baik’. Adapun cara yang digunakan dalam proses penyembuhan adalah setiap telur yang dipecahkan dan darah babi/ayam/kambing yang disembelih, diambil secolek dan dioleskan pada buah kemiri. Barulah kemudian, Kabelen Lewo memecahkan dan mengunyah isi buah kemiri tersebut lalu mengoleskannya di dahi seluruh warga desa. Proses ini disebut Nilu atau Gelowa Weki Wolo. Nilu dipandang sebagai bentuk penyatuan kembali (jiwa-raga), pemurnian kembali relasi antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, leluhur, dan Lera Wulan ‘Tuhan’. Dalam budaya masyarakat Lamaholot (Lewotala), musibah dan celaka seperti wabah penyakit adalah buah dari keselarasan hidup manusia  dengan alam dan sesama.

BACA JUGA  Bupati Flotim : 1.500 Hektar Siap Produksi Garam Solor

Salah satu hal yang terpenting dalam ritus ini adalah bahwa dalam prakteknya, upacara ini melibatkan seluruh warga desa. Melalui upacara ini, mereka saling mendoakan dan memberi maaf pada sesama warga. Hal ini dapat terlihat bahwa bagaimana keselamatan hidup tiap-tiap warga dan keberlangsungan komunitas di desa merupakan tanggung jawab dan komitmen bersama.

Dalam konteks munculnya wabah penyakit Virus Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia masyarakat Lewotala memandang wabah ini adalah akibat dari ulah manusia sendiri yang tamak ‘rakus’ dan tidak harmonis membangun hubungan terhadap sesama manusia, semesta alam, dan Lera Wulan Tanah Ekan ‘Tuhan’. Tak bedanya dengan wabah colera, kusta, dan wabah penyakit menular lainnya yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia persis dengan virus Covid-19 ini adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia di bumi. Wabah-wabah penyakit ini adalah ulah dari ketamakan manusia terhadap alam dan kesombongan manusia terhadap sesamanya, leluhur, dan Lera Wulan Tanah Ekan ‘Tuhan’. Oleh karenanya ritus Ho’in Laga Lewotana adalah syarat untuk memperoleh keselamatan bagi masyarakat desa Lewotala.

Segala bentuk pelarangan dan pantangan selama 4 hari dalam ritus Hoin Laga Lewotanah ini dapat dipandang sebagai kearifan lokal (local wisdom) masyarakat desa Lewotala. Pelarangan ini bersinergi dengan upaya pemerintah memutuskan matarantai penyebaran virus Corona yakni social distancing. Upaya pemutusan mata rantai penyebaran virus ini membutuhkan komitmen bersama dengan mematuhi segala bentuk larangan dan pantangan-pantangan yang ada.

Esensi dari ritus Ho’in Laga Lewotanah meminjam istilah Bakker (1979: 98) ritus adalah kelakuan simbolis yang mengkonsolidasi atau memulihkan tata alam dan menempatkan manusia dan perbuatannya dalam tata keseimbangan. Ritus atau upacara Ho’in Laga Lewotanah bermakna mengokohkan tata rencana alam raya semula dan diharapkan akan mempartisipasikan hidup seluruh umat dalam tatanan keselamatan.(TOM)

TETUA ADAT DESA BANTALA SEDANG MELAKUKAN RITUS HOIN LAGA LEWOTANA

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini